Jumat, 09 Desember 2016
Keraslah pada dirimu sendiri, dan bersikap lemah lembutlah pada seluruh makhluk!!!
Wahai kaum agamawan,
Kau yang disebut aktifis pengajian,
Kau yang disebut Ahli Tafsir
Kau yang disebut Ahli Fiqih
Kau yang disebut Kyai
Kau yang disebut Ulama
Kau yang disebut Ustadz/Ustadzah
Kau yang disebut Profesor Filsafat
Kau yang disebut Guru dan Akademisi
Kau yang disebut Pemimpin
Kau yang disebut Jenderal
Kau yang disebut Panglima
Kau yang disebut Orang Islam
Kau yang disebut Orang beriman
Kau yang disebut orang dermawan
Kau yang disebut para pewaris Nabi
Sudah cukupkah bagimu sejarah memberimu
predikat-predikat itu?
Sudahkah kau capai puncak tertinggi eksistensimu?
Berapa banyak jasa yang kau ukir sepanjang hidupmu?
Untuk-mu atau untuk-Nya?
Kalau itu untuk-Nya kenapa kau ingat-ingat dan kau
tulis?
Kalau itu untuk mu, apa tidak keliru? kenapa Tuhan kau
singkirkan?
Kau hebat, karena Dia menutup aibmu
Kau pandai, karena Dia menutup kebodohanmu
Kau pandai, karena kau dipinjami-Nya
pengetahuan-Nya
Kau Berkuasa, karena kau dipinjami-Nya
Kekuasaan-Nya
Kau Kaya, karena kau dipinjami-Nya Kekayaan-Nya
Kau Tampan dan Cantik, karena diciprati
Keindahan-Nya
Kau beriman karena Dia merahmatimu, Rahman dan Rahiim-Nya
meliputimu
Kau ada, karena dipinjami eksistensi dari
Eksistensi-Nya
Kau bebas berkehendak, karena dipinjami
kehendak-Nya dalam kualitas-kualitas tertentu,
Kau tampak, karena dipinjami rupa dari Wujud-Nya
Lalu apa sebenarnya jasa-mu? Eksistensi-mu saja sebenarnya
adalah ketiadaan
Apa masih layak dan pantas kau membanggakan dirimu?
Apa hakmu?
Karena yang memiliki Hak adalah Dia, bukan dirimu
Dia merahmati-mu bukan karena ibadahmu, tak ada
kewajiban Dia padamu
Dia merahmati-mu karena itu kehendak-Nya. Dia sedang
meramaikan bazar cinta
Tidak ada manusia sakti,
Tidak ada benda keramat,
Yang membuat laut terbelah bukan keramatnya tongkat
Musa
Yang membuat laut terbelah bukan kesaktian Musa
Tapi Allah, Zat Maha Benar Yang Maha
Berkehendak...lah yang membuat laut terbelah
Ber-fastabiqul khairat-lah, berlomba-lomba-lah
dalam kebaikan dan kebenaran
Semoga Allah me-Rahmatimu, dan menjadikanmu sebagai
tanda kehadiran-Nya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang terluka,
kau mengobatinya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang lupa, kau
mengingatkannya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang buta, kau
membimbingnya menemukan jalan
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang lemah, kau
menguatkannya, kau menegakkannya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang teraniaya,
kau membelanya
Engkau hanya tanda kehadiran, yang hadir adalah
DIA, bukan dirimu
Ber-fastabiqul khairat-lah, berlomba-lomba-lah
dalam kebaikan dan kebenaran
Semoga Allah me-Rahmatimu, dan menjadikanmu sebagai
tanda kehadiran-Nya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang kelaparan,
kau hadir memberinya makanan
... tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang kehausan,
kau hadir memberi minum dan kesegaran
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang
kedinginan, kau hadir memberi api kehangatan
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang
belingsatan kepananasan, kau hadir memberi kesejukan
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang memohon
pertolongan-Nya, kau menolongnya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada pertikaian, kau
hadir melerai dan mendamaikannya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada yang ketakutan,
kau hadir melindunginya, kau merengkuhnya
....tanda kehadiran-Nya, ketika ada kekerasan, kau
hadir dengan membawa kelemahlembutan
....tanda kehadiran-Nya, ketika merebak kegelapan kepalsuan,
kau hadir membawa cahaya kesejatian
....tanda kehadiran-Nya, ketika merebak kebencian,
kau hadir membawa cinta dan kasih sayang
....tanda kehadiran-Nya, ketika merebak permusuhan,
kau hadir membawa semangat persaudaraan
...tanda kehadiran-Nya, ketika banyak tertimpa
kesempitan, kau membawa ruang dan keluasan
...tanda kehadiran-Nya, ketika semua terjebak
kebuntuan, kau hadir menjebol pintu jalan keluar
Lalu siapakah kita ini? Siapakah manusia? Siapakah
anak cucu Adam? engkau diciptakan untuk siapa? Untuk dirimu atau untuk diri-Nya?
Wahai manusia, benar engkau adalah tanda
kehadiran-Nya, tak ada makhluk yang sempurna sesempurna dirimu dalam menjadi
tanda kehadiran-Nya, kau bukan sembarang tanda
Kini hisablah dirimu sendiri sebelum Dia
menghisabmu
Karena hakikat dirimu adalah ketiadaan, dirimu bukan
sesuatu atau apa pun
Kau hanyalah tanda...kini jawablah
pertanyaanku..Selama ini kau menjadi tanda kehadiran-Nya atau kehadiran Iblis,
si makhluk bermata satu, yang dilaknat-Nya?
me-manusia (menjadikan diri sebagai tanda
kehadiran-Nya) adalah mujahadah, perjuangan ini adalah jihad dan pilihan jalan
ini adalah ijtihad.Kapan ini berakhir? Akhir jihad ini adalah ketika eksistensi
pinjaman ini berakhir,ketika kita tiba di pintu perpisahan raga dan ruh, bukankah
tiada yang abadi, selain wajah-Nya? Yaa ayyuhan-nafsulmuththmainnah Irji’i ilaa
rabbiki raadhiyatan mardhiyah, fad khuli ‘ibaadii wad khuli jannaatii.
Dia menganugerahkan predikat sebagai syahid yang
sudah total menjadi “tanda kehadiran-Nya”, wakil rububiyah-Nya.
Wahai manusia, kau dipinjami kehendak, tapi bukan
untuk memiliki apapun, karena semua adalah milik-Nya, termasuk dirimu!!!
Wahai manusia, kau dipinjami kehendak, untuk
memilih apakah kehadiran-mu menjadi tanda kehadiran-Nya, atau menjadi tanda
kehadiran Iblis.
Perkenankan aku bertanya lagi padamu,
Ketika engkau marah, marahmu tanda marah-Nya, atau
marah si mata satu?
Ketika engkau mengungkapkan cinta, itu cintamu
tanda cinta-Nya atau tanda cinta si mata satu
Ketika engkau benci, bencimu itu tanda benci-Nya
atau kebencian si mata satu..kebencian seumur hidupmu
Ingatlah, kau adalah wujud utuh kehadiran-Nya,
puncak Maha karya –Nya
Ada mu adalah manifestasi Cinta-Nya, Kau adalah
lokus sifat-sifat Nyahingga tampak dalam pandangan
Hakikat kehadiranmu ini yang membuat Iblis dan para
malaikat ingin menjadi seperti dirimu
Dirimu tempat perjumpaan segala polaritas dan sifat
yang bertentangan
Kenalilah dirimu? Jangan sampai kau menyesal, Wahai
anak cucu Adam.....
Realitas apakah seorang anak Adam itu? Barzakh yang serba
meliputi, bentuk ciptaan dan Zat yang Mahabenar ada di dalamnya; Transkipsi
menyeluruh, memaklumkan Esensi Hakiki dan sifat-sifat suci-Nya; Berhubungan
dengan kelembutan – kelembutan dan Ketakterbandingan, berupa realitas –
realitas dalam kerajaan; Diri batiniahnya tenggelam dalam samudera Kesatuan,
diri lahiriahnya kekeringan di pantai perpisahan. Tak satupun dari sifat –
sifat Allah tak termanifestasikan dalam esensi-Nya.
Dia Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat, Maha
Berbicara dan Berkehendak, Maha Hidup dan Maha Kuasa. Begitu pula dengan
realitas – realitas dalam kosmos, masing – masing terejawantah di dalamnya.
Entah wilayah – wilayah samawi atau unsur – unsur, mineral – mineral, tumbuh
–tumbuhan, atau hewan – hewan. Tertulis di dalamnya bentuk kebaikan dan
kejahatan, Bercampur di dalamnya kebiasaan setan dan hewan – hewan tunggangan.
Kalaulah dia bukan bukan cermin Wajah Abadi, mengapa para malaikat bersujud di
hadapannya? …Dia adalah refleksi keindahan Kehadiran Suci. Jika iblis tak bisa
memahami ini, apa yang menjadi masalah? Semua yang tersembunyi dalam Khazanah
Tersembunyi telah Allah tampakkan dalam diri Adam.
Jika dirimu pun tak memahami hakikat dirimu, ada
apa denganmu? Apakah dirimu refleksi Iblis hingga tak memahami Adam yang ada
dihadapannya? Adam hanyalah makhluk, itu yang dipahami iblis, padahal Adam
bukan sembarang makhluk, perintah Allah untuk bersujud pada Adam pun
diabaikannya. Akhirnya, iblis tersesat, dan apakah kau mau mengikutinya terus
menerus?
Muhammad, saw telah terbuka kesadarannya, dadanya
telah bersih dan suci hingga tawaran-tawaran orang-orang kafir yang ingin
melimpahkan kekuasaan dan harta padanya ditolak mentah-mentah. Cukuplah Dia
bagiku!!! Mengapa? Karena bukan untuk itu kehadiran Muhammad,saw.
Rasulullah, saw begitu mengkhawatirkan umatnya,
ummati...ummati..ummati
Apakah yang ditakutkan Rasulullah,saw ? Tiada lain Rasulullah
takut ummat nya berlomba-lomba menjadi
tanda kehadiran Iblis. Pongah, sombong dengan dirinya, kekuasaannya, hartanya,
ilmunya, apapun yang digenggamnya, dunianya. Tidak memahami hakikat dirinya
sendiri, bahwa dirinya adalah cermin Wajah Keabadian.
...Kau lihat batu, tapi terhijab bentuk dan dimensi
batu, hingga kau tidak melihat wajah-Nya
...Kau lihat air, tapi terhijab oleh bening
kesegarannnya, hingga kau tak mampu memandang-Nya
...Kau lihat api, tapi kau terhijap oleh bara dan
panasnya, hingga kau tak menjumpai-Nya
...Dia sangat dekat denganmu, lebih dekat dari urat
lehermu sendiri
...Kau lihat rupa yang cantik dan tampan, tapi kau
buta melihat Dia yang Maha Indah
...Kau puja Rajawali yang terbang mengangkasa,
seraya kau hina cacing yang berkubang lumpur
...Kau bertanya, untuk apa diciptakan lalat,
nyamuk, bakteri dan penyakit?
...Jika masih demikian kesadaranmu, bukankah kau
sama dengan si mata satu...
...yang bertanya untuk apa Engkau menciptakan
makhluk rendah dari tanah yang nanti berbuat kerusakan di bumi dan menumpahkan
darah? Apakah keberadaanku, ketaatanku dan para malaikat belum cukup bagi-Mu?
Iblis terlaknat karena terhijab dengan dirinya, kebingungan hakikat Adam dan
tak memahami DIA Yang Maha Nyata...apakah kaupun sama?
Nabi telah cukup dengan Dia, ditotaknya Kekuasaan
..kenapa kau memburunya?
Nabi telah cukup dengan Dia, ditolaknya segala
bentuk materi dan pundi-pundi harta...kenapa kau menumpuknya?
Nabi telah cukup dengan Dia, ditolaknya segala
privelege dunia ...kenapa kau menginginkannya?
Ada apa denganmu?
Muhammad telah menjaga diri, makan sebelum lapar
dan berhenti sebelum kenyang...kenapa kau terlena
Muhammad berpuasa dari segala predikat dan trademark
keduniaan yang fana, hanya mengharap ridha-Nya, kenapa kau memburunya?
Selasa, 09 Agustus 2016
Coretan Akhir Masa kecil Kakak...
Hidup hanya sementara, ...46 hari lagi insyaAllah aku berangkat ke Pondok Pesantren.
Kalau dunia ini hanya sementara,...apalagi masa kecil !!!!
Masa kecilku yang sangat indah ini....akan segera berakhir.
Sekarang ....aku beranjak remaja. Massa kecilku yang indah akan dijadikan sebagai kenangan.
Sebuah kenangan yang sangat indah untukku, sangat indah bagi adikku, sangat indah bagi abi umiku....
Ya Allah, jadikanlah aku remaja yang bermanfaat bagi agamaku, negeriku, orangtuaku, saudaraku.
By Nahlia Shafwa Azzaida ....VI 1 Juni 2016
Sabtu, 23 Juli 2016
Untuk Kakak Sayang, Lebah Kecilku.
Ahad, 18 Juli 2016 atau tepatnya 13 Syawwal 1437 H adalah hari
perjalanan spiritualmu berlanjut ke dalam fase baru. Kakak tidak lagi secara
langsung dan intens bersama kami, Abi dan Umi menjalani hari demi hari melewati
titian kehidupan ini. Tak terasa 12 tahun sudah berlalu, rasanya baru kemarin
“Lebah Kecil” Abi dan Umi lahir, dalam bumi kesadaran kami seolah langit
bergemuruh ketika mendengar tangismu pertama kalinya, hati kami riuh tak karuan
antara rasa syukur, gembira -- karena Allah telah mengutus “malaikat kecil”-nya
untuk mengajari kami mengenal-Nya, - dan rasa khawatir apakah kami mampu
mengemban amanat ini, mendampingimu “menggenggam erat” kesadaran di alam alastu
dan menghempaskan fitnah dunia yang penuh kefana’an ini, ya mampukah kami
mendampingimu melewati titian kehidupan ini, detik ke detik berikutnya Allah
hamparkan ujian demi ujian. Keyakinan akan pertolongan Allah dalam setiap
untaian do’a dan sujud yang menguatkan hati kami bahwa Allah tidak akan memberikan
beban ujian kepada hamba-Nya melebihi
kemampuannya. Hanya dengan bergantung kepada-Nya kami meneguhkan tekad untuk
sedapat mungkin memilihkan yang terbaik jalanmu untuk lebih mengenal-Nya.
12 tahun kita lalui dengan canda, kesal, tangis, tawa, amarah sesaat
dan larut lagi dalam senyum dan gegap keriangan. Lelah dan penat kami seharian
lenyap saat kami berada di sisi kalian. Kini setelah kepergianmu dari rumah
kecil kita dan bermukim di As-Salam, rasanya ada sesuatu yang hilang dalam sisi
terdalam kehidupan kami, ada yang tidak lengkap. Setiap makan di luar, biasanya
kita berempat, sekarang hanya bertiga. Setiap malam tetirah di rumah kita
berempat, sekarang bertiga. Setiap mengingat ini, Abi mencoba sekuat mungkin
untuk tidak meneteskan air mata, terlebih ketika melihat Umi kalian beruraian
air mata. Hmmmmm........aaakkhhhhhhh
Kami tidak ada rasa sedih karena kakak sekarang di asrama
As-Salam, kami justru gembira dan mendukung selalu, agar kakak lebih mendalami
ilmu syari’at dan kearifan spiritual, lebih teguh dalam mengokohkan iman dan
mendalami aktifitas ruhiyah yang menjernihkan jiwa, membeningkan hati, qalbun
salim, hati yang sehat.
Kami sedih, karena 12 tahun yang sudah berlalu Abi dan Umi belum
mampu menjadi ayah dan ibu yang baik bagi kalian. Rasanya, sering kalian hanya
mendapat waktu sisa, energi sisa setelah seharian kami larut dalam aktifitas
pekerjaan.
Lagi-lagi...rasanya baru kemarin melihat kakak belajar tengkurap,
belajar mengecap makanan, belajar berjalan meski tertatih dan jatuh, belajar
mengayuh sepeda hijau itu. Kami sering kehilangan kata-kata dan terkaget-kaget
melihat cepatnya perkembangan kakak, usia 3.5 tahun setiap hari menenteng tas
kecil itu berlagak seolah sudah bersekolah. Sesaat kemudian di usia 3.5 tahu
itu pula meminta dengan ngotot untuk masuk ke TK Kecil.
Rasanya baru kemarin, kakak begitu kecewa ketika dimarahi dan dijewer (alm) Pak Abdul, guru TPQ mu
karena menurutnya kakak terlalu lambat mengikuti proses belajar. Kakak tentunya
masih ingat, kakak lagi-lagi ngotot untuk minta pindah TPQ sekali lagi.
Akhirnya Umi harus memberikan pemahaman kepada (alm) Pak Abdul bahwa kakak
memerlukan pendekatan berbeda, dan benar kemudian terbukti kakak mampu menjadi
santri terbaik se-angkatan saat kelulusan.
Kakak sekarang adalah kakak yang sangat pengertian sekali, hatimu
begitu lembut dan peka melihat ketidakadilan, peka sekali terhadap perlakuan
tidak menyenangkan terlebih kasar. Saat abi dan Umi meminta tolong padamu,
seketika itu tanpa protes Kakak lakukan permintaan itu. Sampai-sampai Umi
bertanya, Allah membuat hatinya Kakak itu dari apa?
Kakak sekarang adalah kakak yang pemberani ketika berdiri dalam
posisi benar. Itulah kenapa kami yakin bahwa kakak mampu melewati pembelajaran
di Assalam dengan baik. InsyaAllah.
Kakak Sayang,
Laksana anak panah, kakak meluncurlah sejauh mungkin... menggapai
cita-citamu, menggapai kesadaran sucimu menuju Allah Dzat Maha Benar, Dzat
untuk bergantung harapan semua makhluk.
Abi dan Umi hanyalah Busur, ketika Allah sudah merentangkan busur
itu, maka kami semestinya “melepasmu”. Allah swt yang mengarahkan kemana anak
panah itu meluncur, sejauhmana dan
hingga dimana...Allah swt yang Maha Tahu.
Adanya Kakak lahir sunatullahnya melewati Abi dan Umi, tapi Kakak
bukan milik Abi dan Umi. Kami tak berhak memilikimu. Bahkan diri Abi sendiri bukan
milik Abi, diri Umi sendiri bukan milik Umi. Kami milik-Nya.
Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’mal an-nashir.










