Ahad, 18 Juli 2016 atau tepatnya 13 Syawwal 1437 H adalah hari
perjalanan spiritualmu berlanjut ke dalam fase baru. Kakak tidak lagi secara
langsung dan intens bersama kami, Abi dan Umi menjalani hari demi hari melewati
titian kehidupan ini. Tak terasa 12 tahun sudah berlalu, rasanya baru kemarin
“Lebah Kecil” Abi dan Umi lahir, dalam bumi kesadaran kami seolah langit
bergemuruh ketika mendengar tangismu pertama kalinya, hati kami riuh tak karuan
antara rasa syukur, gembira -- karena Allah telah mengutus “malaikat kecil”-nya
untuk mengajari kami mengenal-Nya, - dan rasa khawatir apakah kami mampu
mengemban amanat ini, mendampingimu “menggenggam erat” kesadaran di alam alastu
dan menghempaskan fitnah dunia yang penuh kefana’an ini, ya mampukah kami
mendampingimu melewati titian kehidupan ini, detik ke detik berikutnya Allah
hamparkan ujian demi ujian. Keyakinan akan pertolongan Allah dalam setiap
untaian do’a dan sujud yang menguatkan hati kami bahwa Allah tidak akan memberikan
beban ujian kepada hamba-Nya melebihi
kemampuannya. Hanya dengan bergantung kepada-Nya kami meneguhkan tekad untuk
sedapat mungkin memilihkan yang terbaik jalanmu untuk lebih mengenal-Nya.
12 tahun kita lalui dengan canda, kesal, tangis, tawa, amarah sesaat
dan larut lagi dalam senyum dan gegap keriangan. Lelah dan penat kami seharian
lenyap saat kami berada di sisi kalian. Kini setelah kepergianmu dari rumah
kecil kita dan bermukim di As-Salam, rasanya ada sesuatu yang hilang dalam sisi
terdalam kehidupan kami, ada yang tidak lengkap. Setiap makan di luar, biasanya
kita berempat, sekarang hanya bertiga. Setiap malam tetirah di rumah kita
berempat, sekarang bertiga. Setiap mengingat ini, Abi mencoba sekuat mungkin
untuk tidak meneteskan air mata, terlebih ketika melihat Umi kalian beruraian
air mata. Hmmmmm........aaakkhhhhhhh
Kami tidak ada rasa sedih karena kakak sekarang di asrama
As-Salam, kami justru gembira dan mendukung selalu, agar kakak lebih mendalami
ilmu syari’at dan kearifan spiritual, lebih teguh dalam mengokohkan iman dan
mendalami aktifitas ruhiyah yang menjernihkan jiwa, membeningkan hati, qalbun
salim, hati yang sehat.
Kami sedih, karena 12 tahun yang sudah berlalu Abi dan Umi belum
mampu menjadi ayah dan ibu yang baik bagi kalian. Rasanya, sering kalian hanya
mendapat waktu sisa, energi sisa setelah seharian kami larut dalam aktifitas
pekerjaan.
Lagi-lagi...rasanya baru kemarin melihat kakak belajar tengkurap,
belajar mengecap makanan, belajar berjalan meski tertatih dan jatuh, belajar
mengayuh sepeda hijau itu. Kami sering kehilangan kata-kata dan terkaget-kaget
melihat cepatnya perkembangan kakak, usia 3.5 tahun setiap hari menenteng tas
kecil itu berlagak seolah sudah bersekolah. Sesaat kemudian di usia 3.5 tahu
itu pula meminta dengan ngotot untuk masuk ke TK Kecil.
Rasanya baru kemarin, kakak begitu kecewa ketika dimarahi dan dijewer (alm) Pak Abdul, guru TPQ mu
karena menurutnya kakak terlalu lambat mengikuti proses belajar. Kakak tentunya
masih ingat, kakak lagi-lagi ngotot untuk minta pindah TPQ sekali lagi.
Akhirnya Umi harus memberikan pemahaman kepada (alm) Pak Abdul bahwa kakak
memerlukan pendekatan berbeda, dan benar kemudian terbukti kakak mampu menjadi
santri terbaik se-angkatan saat kelulusan.
Kakak sekarang adalah kakak yang sangat pengertian sekali, hatimu
begitu lembut dan peka melihat ketidakadilan, peka sekali terhadap perlakuan
tidak menyenangkan terlebih kasar. Saat abi dan Umi meminta tolong padamu,
seketika itu tanpa protes Kakak lakukan permintaan itu. Sampai-sampai Umi
bertanya, Allah membuat hatinya Kakak itu dari apa?
Kakak sekarang adalah kakak yang pemberani ketika berdiri dalam
posisi benar. Itulah kenapa kami yakin bahwa kakak mampu melewati pembelajaran
di Assalam dengan baik. InsyaAllah.
Kakak Sayang,
Laksana anak panah, kakak meluncurlah sejauh mungkin... menggapai
cita-citamu, menggapai kesadaran sucimu menuju Allah Dzat Maha Benar, Dzat
untuk bergantung harapan semua makhluk.
Abi dan Umi hanyalah Busur, ketika Allah sudah merentangkan busur
itu, maka kami semestinya “melepasmu”. Allah swt yang mengarahkan kemana anak
panah itu meluncur, sejauhmana dan
hingga dimana...Allah swt yang Maha Tahu.
Adanya Kakak lahir sunatullahnya melewati Abi dan Umi, tapi Kakak
bukan milik Abi dan Umi. Kami tak berhak memilikimu. Bahkan diri Abi sendiri bukan
milik Abi, diri Umi sendiri bukan milik Umi. Kami milik-Nya.
Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’mal an-nashir.






0 komentar:
Posting Komentar