Sabtu, 23 Juli 2016

Untuk Kakak Sayang, Lebah Kecilku.



Ahad, 18 Juli 2016 atau tepatnya 13 Syawwal 1437 H adalah hari perjalanan spiritualmu berlanjut ke dalam fase baru. Kakak tidak lagi secara langsung dan intens bersama kami, Abi dan Umi menjalani hari demi hari melewati titian kehidupan ini. Tak terasa 12 tahun sudah berlalu, rasanya baru kemarin “Lebah Kecil” Abi dan Umi lahir, dalam bumi kesadaran kami seolah langit bergemuruh ketika mendengar tangismu pertama kalinya, hati kami riuh tak karuan antara rasa syukur, gembira -- karena Allah telah mengutus “malaikat kecil”-nya untuk mengajari kami mengenal-Nya, - dan rasa khawatir apakah kami mampu mengemban amanat ini, mendampingimu “menggenggam erat” kesadaran di alam alastu dan menghempaskan fitnah dunia yang penuh kefana’an ini, ya mampukah kami mendampingimu melewati titian kehidupan ini, detik ke detik berikutnya Allah hamparkan ujian demi ujian. Keyakinan akan pertolongan Allah dalam setiap untaian do’a dan sujud yang menguatkan hati kami bahwa Allah tidak akan memberikan beban ujian kepada  hamba-Nya melebihi kemampuannya. Hanya dengan bergantung kepada-Nya kami meneguhkan tekad untuk sedapat mungkin memilihkan yang terbaik jalanmu untuk lebih mengenal-Nya. 

12 tahun kita lalui dengan canda, kesal, tangis, tawa, amarah sesaat dan larut lagi dalam senyum dan gegap keriangan. Lelah dan penat kami seharian lenyap saat kami berada di sisi kalian. Kini setelah kepergianmu dari rumah kecil kita dan bermukim di As-Salam, rasanya ada sesuatu yang hilang dalam sisi terdalam kehidupan kami, ada yang tidak lengkap. Setiap makan di luar, biasanya kita berempat, sekarang hanya bertiga. Setiap malam tetirah di rumah kita berempat, sekarang bertiga. Setiap mengingat ini, Abi mencoba sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mata, terlebih ketika melihat Umi kalian beruraian air mata. Hmmmmm........aaakkhhhhhhh

Kami tidak ada rasa sedih karena kakak sekarang di asrama As-Salam, kami justru gembira dan mendukung selalu, agar kakak lebih mendalami ilmu syari’at dan kearifan spiritual, lebih teguh dalam mengokohkan iman dan mendalami aktifitas ruhiyah yang menjernihkan jiwa, membeningkan hati, qalbun salim, hati yang sehat.
Kami sedih, karena 12 tahun yang sudah berlalu Abi dan Umi belum mampu menjadi ayah dan ibu yang baik bagi kalian. Rasanya, sering kalian hanya mendapat waktu sisa, energi sisa setelah seharian kami larut dalam aktifitas pekerjaan.

Lagi-lagi...rasanya baru kemarin melihat kakak belajar tengkurap, belajar mengecap makanan, belajar berjalan meski tertatih dan jatuh, belajar mengayuh sepeda hijau itu. Kami sering kehilangan kata-kata dan terkaget-kaget melihat cepatnya perkembangan kakak, usia 3.5 tahun setiap hari menenteng tas kecil itu berlagak seolah sudah bersekolah. Sesaat kemudian di usia 3.5 tahu itu pula meminta dengan ngotot untuk masuk ke TK Kecil. 

Rasanya baru kemarin, kakak begitu kecewa ketika dimarahi  dan dijewer (alm) Pak Abdul, guru TPQ mu karena menurutnya kakak terlalu lambat mengikuti proses belajar. Kakak tentunya masih ingat, kakak lagi-lagi ngotot untuk minta pindah TPQ sekali lagi. Akhirnya Umi harus memberikan pemahaman kepada (alm) Pak Abdul bahwa kakak memerlukan pendekatan berbeda, dan benar kemudian terbukti kakak mampu menjadi santri terbaik se-angkatan saat kelulusan.

Kakak sekarang adalah kakak yang sangat pengertian sekali, hatimu begitu lembut dan peka melihat ketidakadilan, peka sekali terhadap perlakuan tidak menyenangkan terlebih kasar. Saat abi dan Umi meminta tolong padamu, seketika itu tanpa protes Kakak lakukan permintaan itu. Sampai-sampai Umi bertanya, Allah membuat hatinya Kakak itu dari apa?

Kakak sekarang adalah kakak yang pemberani ketika berdiri dalam posisi benar. Itulah kenapa kami yakin bahwa kakak mampu melewati pembelajaran di Assalam dengan baik. InsyaAllah.

Kakak Sayang,
Laksana anak panah, kakak meluncurlah sejauh mungkin... menggapai cita-citamu, menggapai kesadaran sucimu menuju Allah Dzat Maha Benar, Dzat untuk bergantung harapan semua makhluk.
Abi dan Umi hanyalah Busur, ketika Allah sudah merentangkan busur itu, maka kami semestinya “melepasmu”. Allah swt yang mengarahkan kemana anak panah itu meluncur, sejauhmana  dan hingga dimana...Allah swt yang Maha Tahu. 

Adanya Kakak lahir sunatullahnya melewati Abi dan Umi, tapi Kakak bukan milik Abi dan Umi. Kami tak berhak memilikimu. Bahkan diri Abi sendiri bukan milik Abi, diri Umi sendiri bukan milik Umi. Kami milik-Nya.

Hasbunallah wani’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’mal an-nashir.

0 komentar:

Posting Komentar